SIUL UNDAN HIJAU UNTUK ABU THALHAH
"Infiruu khifafaw watsiqaala",berangkatlah kamu sekalian dalam keadaan merasa ringanataupun berat.
Berhenti pada ayat ini, At Taubah:41, suami ummu Sulaim,Abu Thalhah RA, tersentak. Ia yang kini sudah rentadimakan usia dengan putera-putera yang sudah dewasa,seperti terbangun dari tidur pulasnya. Dia sudah berumurlanjut, namun ayat ini diyakini berlaku untuk dirinya,bahkan dirasakan ayat ini khusus ditujukanuntuk dirinya, berdialog, mengingatkan dan membangkitkangelora lama yang tetap hangat dalam dadanya. Hatinyaberdetak keras, wajahnya memerah, suaranya lantang mengge-legar, " wahai anak-anakku, tolong siapkan segala perlengkapanperangku", teriaknya.
Mendengar perintah lantang sang ayah, putera-putera abu thalhah,yang juga singa-singa Allah terkejut. Tidak terlalu tuakah bagisang ayah untuk turut ke medan perang ?Mereka bertanya-tanya dan mencoba menahan.
"Ayah, engkau telah berperang bersama Rasulullah SAW sehinggabeliau wafat. Engkaupun turut serta berjihad bersama khilafahabu bakar sampai beliau dipanggil Allah.Ayah, engkaupun tak pernah tertinggal dalam menegakkan kalimatullahbersama umar bin khattab sampai beliaupun mendahului kita menghadapAllah Rabbul Izzati.Karenanya, ayah, sekarang cukuplah kami putera-puteramu, penerusmuyang terjun ke medan bersama do'a mu".
Abu thalhah diam, tegak bak spink, wajahnya tetap memerah, namunsuaranya sudah kembali lembut, "wahai anakku siapkanlah perlengkapanperangku. Tidakkah engkau mengetahui, bahwa Allah telah memanggilkita yang muda maupun yang tua, infiruu khifafaw watsiqaala".
Dia pun berangkat tak tercegah, menuju medan tempur laut dan mendapatkemuliaan syahid di tengah lautan. Setelah satu pekan perjalanan laut,barulah ditemukan daratan untuk mengebumikan jasad asy syahid.Yang luar biasa adalah sampai saat dikebumikan, tubuhnya takberubah sedikitpun.
Abu thalhah beroleh syahid yang diidamkannya.
Inilah sosok mu'min tang telah dirasuki roh Al Qur'an, tercelup pekatsibgha Allah. "Dirinya" telah hilang, hawa nafsu telah terkalahkan,belenggu dan jerat-jerat dunia telah tersiasati.Tinta Rabbani telah menulisi jasad bergerak abu thalhah, membentukjiwa kokoh, tegar namun tawadlu. Warna hatinya hanya satu "Allah"dan hanya "Allah", cinta akan jihad, burung undan hijau--surgatanpa hisab.
Itulah abu thalhah dan kita adalah penerusnya, insya Allah.
No comments:
Post a Comment